Pages

Sabtu, 02 Oktober 2010

T U G A S

Ada Danau di Pakupatan
Oleh Ririn Fauziah
Cuaca panas, jalanan siang itu masih menyisakan basah setelah  hujan semalaman  yang mengguyur wilayah Serang. Angkot yang memasuki terminal Pakupatan melalui jalan belakang berjalan sangat hati-hati. Jalan menuju terminal memang hancur, seakan terminal antar kota antar provinsi ini tidak dimiliki pemerintah daerah.
Kira-kira 200 meter setelah lampu merah Parung, jalanan sepanjang 10 meter tergenang air. Lubang di jalan itu bagaikan danau buatan yang sengaja diisi air, karena air hujan yang masuk ke situ membuat kendaraan yang melewatinya harus berkotor-kotor ria.
Dua orang DLLAJ berdiri tegak di tengah jalan, menghadang setiap angkutan umum yang memasuki wilayah terminal. Para petugas itu memasang kertas kecil seperti tiket masuk di kaca depan angkutan umum dan meminta Rp 1000 ke setiap angkutan yang lewat. Supir angkot mengeluh “bayar terus-terusan tapi ga ada perubahan di terminal ini.”
Sejak beberapa tahun yang lalu DLLAJ menerapkan sistem buka tutup pada terminal Pakupatan. Pagi hingga sore hari angkutan umum yang datang dari arah Cikande diharuskan masuk melalui jalan belakang, sementara sore hingga malam  hari mereka boleh datang melalui jalan depan. Hal ini tidak berlaku bagi angkutan antar provinsi, sperti angkot berwarna biru dan bus-bus besar dari trayek Tangerang, Balaraja, Jakarta, Bogor dan sekitarnya.
Peraturan yang diberlakukan Direktorat Lalu Lintas Angkutan Jalan atau DLLAJ itu bermaksud menertibkan angkutan yang keluar masuk terminal, karena terminal Pakupatan adalah terminal antar kota antar provinsi yang memiliki mobilitas tinggi. Namun nyatanya, hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap kesemrawutan yang terjadi di terminal ini.
Angkutan umum, khususnya angkot sering berhenti di sembarang jalur di terminal, begitu juga dengan ojek yang mangkal di beberapa sudut terminal. Lebih parahnya lagi, kini, terminal bagian dalam yang seharusnya berfungsi sebagai terminal malah hanya sebagai tempat keluar masuk saja. Sementara angkutan umum berupa angkot berwarna merah dan biru lebih senang ngetem di depan terminal. Bahkan untuk angkot berwarna merah dengan trayek  terminal-cikande, biasa ngetem di sembarang tempat, jauh di luar terminal.
Si merah yang seharusnya menunggu penumpang di dalam terminal ini lebih sering berdiam menunggu penumpang di lampu merah yang berjarak 20 meter di luar sebelah kanan terminal. Bahkan mereka bisa ngetem di jembatan yang letaknya 200 meter dari terminal.
Di malam hari, mereka bisa ngetem di depan kampus UNTIRTA Serang. Hal ini mereka lakukan tanpa sepengetahuan polisi. Beberapa sopir yang nekat memutar jalan meuju kampus UNTIRTA pada sore hari sering kena tilang. Tapi beberapa diantaranya masih senang kejar-kejaran dengan polisi “kalau ketahuan, bisa dikejar sampai POM bensin Pasundan,” kata salah satu supir angkot berwarna merah.
            Dibagian dalam terminal, sudah tidak nampak aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang. Aktivitas di dalam terminal di dominasi oleh kegiatan hilir mudik para calo dan preman. Warung-warung dagang yang ada di dalam terminal pun lebih sering mendapat pembeli dari kalangan calo dan tukang ojek dibanding pembeli dari kalangan penumpang.
            Fasilitas berupa toilet umum, halte dan sarana ibadah diam membisu. Masjid yang ada di bagian belakang terminal lebih sering dipakai istirahat daripada sholat. Toilet yang ada di masjid terhitung bersih namun kumuh. Cat nya sudah kusam dan mengelupas. Orang-orang yang sehari-hari beraktivitas di terminal biasa menggunakan kamar mandi masjid untuk mandi, cuci kakus.
            Sementara toilet umum yang ada di belakang halte kondisinya jauh lebih miris. Gelap, pengap, kusam dan terkesan kumuh. Halte yang terletak di depan toilet pun dirasa sangat kurang memadai untuk ukuran terminal yang mobilitasnya tinggi ini. Dari ratusan orang penumpang yang menunggu angkutan umum baik angkot, bus sepertiga, atau pun bus besar di terminal ini, hanya tersedia halte kecil dan kursi tunggu yang sanggup diisi tidak lebih dari 20 orang.
            Terminal pakupatan juga memiliki angka kriminalitas tinggi. Kasus pencopetan sering  terjadi di terminal ini. Padahal, di dalam terminal ini kantor polisi berdiri tegak dan dijaga secara bergiliran oleh orang-orang berseragam itu, namun tingkat kriminalitas masih terhitung tinggi.
Hampir setiap inchi jalan bagian dalam juga rusak. Lebih ironis lagi ketika hujan datang, terminal ini berubah menjadi danau buatan. Becek, berlumpur dan tidak ada halte yang kapasitas penampungannya memadai. Sopir banyak mengeluh dengan kondisi jalan dalam terminal ini, “kalau hujan, kita bisa nyari lele di sini,” seringkali kalimat itu muncul dari beberapa sopir.
Terminal ini milik kota dan kabupaten Serang, namun pada kenyataannya tidak ada pihak yang mau menangani kebobrokan terminal ini. Pemerintah daerah telah menganggarkan dana bagi DPU setiap tahunnya, namun kondisi terminal tidak berubah. Tahun ini Dinas Pekerjaan Umum atau DPU berlomba mengalokasikan dana perbaikan bagi kota dan kabupaten Serang. DPU kota Serang menganggarkan Rp 14,4 miliar dan DPU Kabupaten Serang Rp 11,9 miliar.
Anggaran ini harusnya digunakan untuk perbaikan jalan, pelebaran jalan dan perbaikan jembatan. Namun terminal Pakupatan masih betah jadi danau buatan yang tak tersentuh anggaran DPU.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut