Debus: Warisan Budaya Kaya Makna
Oleh Ririn Fauziah
Debus merupakan salah satu kesenian khas Banten yang telah banyak dikenal luas oleh masyarakat lokal dan luar daerah. Kesenian ini terkenal karena ke-ekstrim-an para pemainnya menggunakan senjata tajam dan mempertontonkan kekuatan tubuh.
Debus berasal dari bahasa arab yang merupakan nama dari salah satu senjata tajam yang memiliki ujung runcing dengan bundaran dikepalanya. Senjata ini yang kemudian menjadi ikon disetiap permainan debus.
Kesenian ini lahir pada pada masa kesultanan Hasanudin (abad ke-16). Pada awalnya kesenian ini digunakan sebagai alat penyebaran agama islam karena pada masa Hindu Budha. Namun pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (abad ke-17), kesenian ini berubah menjadi salah satu alat untuk mengalahkan penjajahan belanda. Hal ini dikarenaka adanya gerakan pencak silat dalam pertunjukan debus.
Kesenian ini juga menjadi alat komunikasi masyarakat guna membangkitkan semangat pasukan Banten melawan penjajahan Belanda. Namun kini debus hanya digunakan sebagai media hiburan bagi masyarakat.
Dalam beberapa literatur, debus dikaitkan dengan perkumpulan orang-orang dari tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah, samniyyah dan rifa’iyyah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya manuskrip yang berkaitan dengan permainan debus milik tarekat Rifa’iyyah di Desa Sekong Kadudodol, Pandegelang.
Sebelum melakukan pertunjukan debus biasanya para pemain melakukan beberapa persyaratan atau pantangan. Tujuannya agar pertunjukan debus berjalan baik. Beberapa persyaratan itu diantaranya tidak boleh mabuk-mabukan, tidak boleh berjudi, tidak boleh tidur dengan isteri, tidak makan atau minuman tertentu dan dibekali bacaan-bacaan atau mentra-mantra tertentu. Muftyiah (21), salah seorang anggota Pandawa Untirta, mengatakan, “buat jadi pemain debus harus puasa 40 hari dan mandi kembang tengah malam.”
Pertunjukan debus biasanya diawali dengan pembacaan puji-pujian kepada Nabi Muhammad dan dzikir kepada Allah diiringi tabuh selama beberapa menit. Ritual selanjutnya ialah beluk, yaitu lantunan dzikir dengan suara nyaring dan bersahut-sahutan diiringi dengan tabuh. Setelah ritual dzikir dan shalawat, dilanjutkan dengan pertunjukan pencak silat yang digabungkan dengan tari-tarian.
Permainan debus juga biasanya diawali dengan menyanyikan lagu tradisional atau gembung. Ritual-ritual tersebut digunakan sebagai alat komunikasi mereka kepada Sang Khalik guna meminta perlindungan dan keselamatan selama pertunjukan. Setelah ritual dzikir dan shalwat itu berakhir, barulah dimulai acara inti, yaitu unjuk kekuatan dan kekebalan tubuh.
Atraksi yang dilakukan dalam pertunjukan debus biasanya adalah menusuk perut dengan senjata tajam, mengiris bagian tubuh tertentu tanpa terluka, memakan api, menusuk pipi atau lidah dengan jarum tanpa terluka, menyiram tubuh dengan air keras, berjalan diatas pecahan gelas, menggoreng telur diatas kepala, menaiki susunan golok tajam, mengupas kelapa menggunakan gigi dan sebagainya. Acara berakhir dengan suara gemrung atau tetabuhan yang berasal dari gendang, rebana, seruling dan kecrek.
Jika dicermati, pertunjukan debus mengandung beragam nilai yang dapat dijadikan acuan bagi kehidupan. Nilai itu ialah kerjasama, kerja keras dan keimanan. Nilai kerjasama jelas tercermin dari permainan yang dilakukan secara gotong royong oleh semua pemain. Satu macam permainan tidak hanya dilakukan oleh satu pemain, tapi semua pemain.
Nilai kerja keras tercermin dari usaha para pemain yang melakukan permainan dengan cepat, tepat dan sungguh-sungguh. Bahkan beberapa hari sebelum pertunjukan dimulai, para pemain melakukan persiapan dengan matang.
Nilai keimanan tercermin dari shalawat dan dzikir yang dilantunkan sebelum pertunjukan dimulai. Beberapa doa juga dipanjatkan kepada Allah untuk meminta keselamatan dan perlindungan. Hal ini menunjukan kepercayaan mereka kepada adanya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar