Pages

Minggu, 19 Desember 2010

M Y LI F E


Panjang Mulud: Tradisi Meriah ala Banten
Oleh Ririn Fauziah

Jika di Jogja peringatan kelahiran Nabi dinamakan Grebek Mulud, di Cirebon dinamakan Panjang Jimat, maka di Banten peringatan itu dinamakan Panjang Mulud.
Panjang Mulud merupakan salah satu tradisi keagamaan masyarakat Banten dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
            Tradisi ini diperingati setiap 12 Rabiul Awal sebagai hari lahir Nabi Muhammad. ‘Panjang’ artinya pajangan atau hiasan, sementara ‘Mulud’ artinya muludan atau maulidan atau istilah untuk peringatan kelahiran Nabi. Secara umum, Panjang Mulud diartikan hiasan yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk kemudian diarak dan diperebutkan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
            Hiasan yang dikeluarkan berupa makanan, hasil bumi, perlengkapan solat, atau telur. Hiasan ini akan diarak dan kemudian diperebutkan masyarakat. Masyarakat berlomba membuat hiasan dari bahan-bahan tersebut untuk kemudian diarak menggunakan mobil bak terbuka atau dipanggul bersama-sama.
            Rijal azis, salah satu anggota DPRD Kota Serang mengatakan “panjang mulud merupakan bentuk rasa syukur kepada allah dengan mengeluarkan berbagai makanan untuk diarak dan dimakan bersama-sama.”
Tidak hanya menghias berbagai barang, Panjang Mulud juga memiliki beberapa prosesi dalam pelaksanaannya.
Pertama adalah salamatan. Prosesi ini sebagai bentuk memohon keselamatan kepada Allah dengan membuat makanan yang nantinya didoakan dan dimakan bersama dengan harapan agar mendapat berkah atas makanan tersebut.
Kedua adalah tahlilan. Prosesi ini bertujuan menguatkan iman umat muslim dengan membaca sejumlah dzikir dan kalimat tahlil.
Prosesi selanjutnya adalah doa. Dalam prosesi doa, dilantunkan kalimat-kalimat dzikir dan berbagai doa agar apa yang dilakukan dapat mendapat pahala dan terhindar dari dosa.
Selain doa, terdapat prosesi yang dinamakan hikmah. Hikmah adalah acara yang diisi dengan ceramah agama yang biasanya diisi oleh penceramah tertentu dengan tema yang berkaitan dengan kelahiran Nabi.
Barulah keesokan harinya dilakukan acara mengarak panjang atau hiasan. Panjang biasanya dikerjakan malam sebelumnya untuk kemudian diarak pada keesokan harinya. Acara ini merupakan puncak perayaan maulidan dan biasanya mendapat sambutan meriah dari masyarakat.
Panjang yang dibuat bukan hanya satu-dua, tapi banyak hingga berderet memenuhi jalan ketika diarak. Barang yang dihias juga beragam dan diperkirakan menghabiskan modal yang tidak sedikit.
            Biasanya, masing-masing daerah di Banten memilki gaya dalam merayakan maulidan. Baik dalam setiap prosesinya maupun cara menghias panjang dan barang-barang yang digunakan untuk dihias.
Tidak hanya tradisi, Panjang Mulud juga dijadikan ajang lomba bagi beberapa masyarakat atau instansi di Banten. Tujuannya guna menyemarakan rangkaian maulidan dan memberi apresiasi bagi masyarakat yang membuat panjang.
Tradisi Panjang Mulud yang dilakukan sebagian besar masyarakat Banten ini merupakan bentuk komunikasi masyarakat. Karena dalam setiap detail prosesinya melibatkan banyak orang dari berbagai kalangan.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut