Negeri Para Pembual Janji
Negeri ini kaya. Kaya akan karunia alam, keindahan semesta, hasil bumi, kaya akan manusia-manusia pintar, dan kaya akan manusia-manusia pembual janji.
Para pembual janji yang merangkul erat-erat rakyat saat kampanye. Para pembual janji yang memuji-muji negeri saat pidato. Para pembual janji yang habis-habisan membobol tabungan demi masa depan(nya).
Mari lihat, ada berapa pejabat yang benar-benar merealisasikan janji-janjinya demi rakyat? Satu, dua, tiga? Ya, hanya hitungan jari. Selebihnya memperkaya diri dan membuat kerajaan ditengah kemiskinan. Selebihnya berlomba menggunakan make up mahal ditengah muka kusut rakyat. Selebihnya berlomba membuat pakaian bermerk ditengah gubuk ringsek. Selebihnya meninggikan pagar ditengah perut lapar.
Lihat, para pembual janji kongkow-kongkow diruang ber-AC dan tidak tahu rakyat kesulitan mencari biaya kesehatan, kesulitan mencari biaya pendidikan, kesulitan mencari keadilan. Lihat, bagaimana pencuri miskin dipaksa duduk di kursi pesakitan karena berusaha mencari sesuap nasi ditengah lalainya pemerintah memberi lapangan pekerjaaan.
Saya bingung, mau tertawa atau menangis, ketika para pejabat, melakukan rutinitas keliling kota dan negeri dengan biaya rakyat tapi tidak membawa apa-apa sekembalinya dari sana. Safari tersebut memang agenda rutin para pejabat dengan tujuan studi banding. Apa sih studi banding?
Studi banding adalah kegiatan mempelajari, meneliti dan memahami satu hal, masalah atau kegiatan, untuk kemudian diperabandingkan dengan hal lain dan menemukan solusinya. Studi banding biasanya melihat hal atau daerah pertama sebagai contoh bagi daerah lainnya yang bermasalah. Nah, kenapa studi banding selalu tidak menghasilkan apa-apa? kalau emang dirasa ga ada apa-apa kenapa mesti studi banding? Konyol.
Lihat contohnya, bagaimana salah satu kementrian bolak-balik ke Jepang melihat contoh sistem pertanian disana, namun sekembalinya dari sana mereka still doing nothing. Kenapa ga mengutus beberapa petani saja untuk langsung studi banding kesana? Pastinya para petani adalah orang yang tahu keadaan lapangan, kedaan sawah. Orang yang paham apa yang akan dilihat di daerah pertanian di Jepang. Cukup modalin duit dan biarkan mereka belajar. Gampang kan?
Atau lihat, bagaimana Dinas Pekerjaan Umum di suatu kota melakukan studi banding ke daerah lain untuk melihat sistem pembangunan jalan sementara sebagian besar jalan di kotanya masih saja memakan korban. Kalau emang udah tahu cara memperbaiki jalan, kenapa dananya ga dialokasikan aja buat pembangunan jalan? Daripada buat studi banding tanpa hasil. Aneh.
Pemda Banten sendiri mengeluarkan kocek tidak sedikit untuk membeli angkutan berupa mobil mewah dan bus bergambar gubernur dan wakilnya, sementara kendaraan itu tidak dimanfaatkan untuk meninjau daerah-daerah terbelakang. Kendaraan itu dipakai sesekali untu pamer kepada masyarakat. Selebihnya jadi pajangan. Mubadzir.
Bukannya dalam agama dilarang memubadzirkan sesuatu? Memubadzirkan artinya menyia-nyiakan. Memubadzirkan sesuatu adalah sifat setan, jadi orang-orang yang memubadzirkan sesuatu adalah...??
Para pembual janji tak tahu diri. Tak punya malu. Tak sadar bahwa oleh rakyatlah mereka diangkat dan dipercayakan. Mereka merasa telah melakukan banyak hal, tapi untuk diri sendiri, bukan untuk kemaslahatan umat.
lanjutkan..............
BalasHapus