Harusnya Kita Iri…
Pengemis, pengamen, dan anak-anak punk, adalah mereka yang dibesarkan oleh jalanan. Ditempa kemiskinan dan kekurangan, hidup terpisah dengan dunia normal, menjadikan baik dan buruk adalah sama bagi mereka.
Warga jalanan ini terisolasi dari dunia nyata. Atau mungkin, justru merekalah yang tinggal di dunia nyata yang sebenarnya. Keras, pedas dan ditindas. Tidak ada kepura-puraan, karena miskinnya mereka memang nyata.
Harusnya kita iri pada mereka…
Anak-anak ingusan yang tak gentar hidup di jalan, makan di jalan, main dijalanan, cari nafkah, sementara kulitnya hangus oleh matahari dan kisut oleh dingin malam. Namun anti mengeluh meski berpeluh.
Harusnya kita acungkan jempol pada mereka yang masih ingusan, berani hadang resiko di jalanan, berani cari nafkah sendirian, berani banting tulang demi kehidupan. Sementara anak ingusan yang lain bermewah-mewah dengan semua mainan, meminta-minta pada orangtua, dan tak tahu apa itu bekerja. Manja.
Lalu kenapa kita masih mencibir? Bahkan mencibir saja tidak cukup. Kita terlalu sering menolak mereka.
Bukankah seharusnya kita senang bahwa Tuhan mendatangkan mereka pada kita agar kita mau berbagi demi pahala kita sendiri? Bukankah seharusnya kita senang bahwa Tuhan mendatangkan mereka pada kita agar kita mampu bersyukur dan rendah hati?
Berkacalah, kadang kita terlalu sombong. Padahal lihat, mereka jauh lebih tangguh dari kita. Bahkan anak-anak ingusan itu jauh lebih tabah dari kita.
Maka, jangan pelit.
Memberi adalah kewajiban kita pada yang meminta. Harta mungkin berkurang, tapi pahala akan bertambah. Jangan pula terlalu selektif dengan mengira mereka berpura-pura, karena pura-pura adalah dosa mereka dengan Sang Pencipta, kita hanya perlu memberi pada yang meminta.
tangan di atas lebih baik dari tangan dibawah y,,,,
BalasHapusyg jadi pertanyaan kemudian.... dimana fungsi dan peran negara dalam mengayomi mereka............
so, buat apa ada negara?
BalasHapusbuat apa ada DPR?