Perempuan Bukan Komoditi Pasar
Beruntunglah kaum perempuan, karena perempuan merupakan perhiasan yang jauh lebih indah dan berharga dari emas apa pun.
. . .
Bahkan dalam sebuah hadist disebutkan “berbahagialah bagi suami istri yang rumahnya dihias oleh anak-anak perempuan mereka.” Hal itu mengartikan bahwa perempuan merupakan penghias sebuah rumah tangga. Indah dipandang, mahal harganya, jarang disentuh.
Perempuan merupakan mas kawin termahal bagi suami, dia bukan hanya barang yang dibeli. Perempuan merupakan model paling cantik bagi si anak, bukan hanya botol tempat ia menyusu. Perempuan merupakan maskot kekuatan jiwa. Bayangkan saja, ketika beranjak dewasa, ia mengalami haid yang tidak jarang menimbulkan rasa sakit luar biasa, setap bulannya. Kemudian ketika bersuami, ia melahirkan manusia mungil yang mempertaruhkan nyawanya. Lalu ketika menjadi ibu, ia bersusah payah membuat rumah nyaman, mengasuh si anak, melayani suami, membantu mertua…
. . .
Perempuan adalah harta, yang harus senantiasa disimpan baik. Perempuan bukan komoditi pasar. Meskipun banyak perempuan yang menjadikan diri mereka sendiri komoditi pasar.
Perempuan bagaikan cokelat, yang hampir semua orang menyukai rasa dan bentuknya. Tapi, perempuan harus menjadi cokelat yang dipajang di etalase toko, dibungkus, dibandrol mahal, dan jika ada yang ingin mencicipi harus membeli terlebih dahulu. Pembeli yang langsung membelinya, bukan penjual yang menawarkan.
Perempuan tidak pantas menjadi cokelat yang dijual dipasar atau bahkan di warung pinggir jalan. Ditaruh begitu saja, tidak dibungkus, dikerubuti lalat, dijual murah, dan siapapun bisa mencicipi sebelum membeli. Jika terus menerus dibiarkan begitu, kualitasnya tentu menurun.
. . .
Perempuan juga manusia. Bisa salah dan dosa. Maka, tetap jadilah seperti cokelat yang dijual di toko. Jika bentuknya rusak, rasanya pahit asam tidak karuan, maka sang koki langsung memperbaiki bentuk dan rasanya. Bukan dibiarkan habis dimakan lalat, basi berjamur, kemudian dibuang. Perempuan adalah harta. (Ririn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar