Pages

Minggu, 14 Agustus 2011

M Y L I F E


Sabar. Memiliki kata sifat “penyabar”, menunjuk pada suatu keadaan menahan diri dari cobaan. Marah, kesal, sakit dan keinginan untuk segera melakukan sesuatu termasuk dalam “cobaan” tersebut.
            Lantas, seperti apa sabar itu? Ketika kita dilanda permasalahan dengan rekan kerja atau pasangan, lantas kita diam saja, lalu kita selalu bilang didepan teman kita yang lain “saya sih sabar ngadepin dia, dianya yang bla-bla-bla.” Adakah seseorang yang sabar dinilai dari diamnya dia didepan tapi kemudian membicarakan lawannya dibelakang? Menghindari perselisihan didepan tapi mencari perselisihan lain dibelakang orang yang dibicarakannya?
Atau ketika kita dihadapkan pada suatu persoalan yang kita kira butuh disegerakan, kita pasti selalu bilang “ya udahlah, sabar aja.” Adakah seseorang yang sabar membicarakan kesabarannya? Sama seperti orang yang pintar mengaku pintar. Sebenarnya orang seperti itu hanya “merasa” dirinya sabar, padahal tidak.
Ingat, bahwa sabar erat kaitannya dengan ikhlas. Keikhlasan tidak akan terucap, tapi terasa di hati. Begitu juga sabar, orang sabar tidak akan mengaku dirinya sabar, karena kesabaran bukan berasal dari bibir, tapi dari hati.
Kesabaran dan keikhlasan menjadi identitas keimanan sesorang. Jangan merasa diri kita sabar, karena kita tidak tahu bagaimana penilaian Allah terhadap kita. Jangan merasa diri kita ikhlas, karena bisa jadi itu riya’. Ingatlah, segala sesuatu dalam diri kita dinilai oleh juri yang Maha Adil.
Sabarlah, ingat bahwa janji Allah itu nyata. Sabarlah, Allah meberikan suatu persoalan itu satu paket dengan penyelesaiannya. Sabarlah, ingat bahwa Allah sedang menilai kita. Tetap diam, tundukan hati dan belajar memahami sesuatu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut