Pages

Sabtu, 31 Maret 2012

A R T I K E L


Negeri dan Pemimpin Islami

Menyalakan tv,lagi-lagi tentang potret buram kepemerintahan. Ada yang meracau menolak kenaikan BBM, ada yang mengacau meminta turunnya presiden, ada yang setiap minggu bakar ban di depan institusi pendidikan, ada yang berjalan menuju istana menuntut keadilan, ada yang bermain dagelan suap-suapan. Hebatnya lagi, presiden sibuk curhat sana-sini.
            Mungkin ada yang bertanya, “Penduduk Indonesia kan mayoritas islam, mana potret keislamannya? Yang duduk di senayan itu orang-orang berpredikat haji, yang duduk di persidangan itu orang-orang berpeci, yang ditempat pelacuran itu perempuan-perempuan ber-KTP islam, tahanan-tahanan yang masuk jeruji besi karena maling ayam itu juga islam.”
            Mari, tafakur sebentar. Muhassabah diri.
*          *          *
            Setiap hari, duduk didepan tv, hanya ada tayangan yang juga sama buram. Sinetron penuh penderitaan, musik2 keras dan mellow tidak karuan, berita2 pembunuhan dan tayangan tentang penampakan. Lalu apa yang diharapkan jika tontonan masyarakat kita seperti itu? Mana acara tausiyah? Mana acara motivasi yang membuat hati cerah? Mana berita2 tentang akhlakul karimah?
            Mungkin ada juga yang bertanya, “Penduduk indonesia kan mayoritas islam, pasti yang bekerja di media massa juga mayoritas islam, lalu mana tayangan yang islami?”. Pekerja media massa, bagaimana anda menjawabnya?
Ada yang mungkin menjawab “lha itu, bioskop2 mulai menayangkan film2 islami. Hm, aktor dan aktris itu berpegangan tangan, berpelukan, berpura-pura menjadi suami istri, ibu anak, atau hubungan kekerabatan. Apakah dalam kehidupan nyata mereka benar2 memiliki hubungan muhrim yang halal untuk saling menyentuh dan disentuh?.
*          *          *
            Buramnya potret negeri ini bukan karena satu pihak, tapi karena minimnya kesadaran pemimpin negeri ini untuk menyimak. Hanya menoleh, kemudian kembali berjalan, tidak akan pernah menyelesaikan suatu masalah dengan nyaman.
            Bapak presiden, gubernur, walikota, juga bupati, mundurlah jika merasa tak lagi sanggup mengemban amanah kami. Mundur karena rendah hati jauh lebih terhormat dari pada terus maju tapi tidak melakukan apa-apa kemudian dicaci maki. Mundurlah dan tinggalkan pada yang lebih ahli. Jabatan dan nama besar kalian tidak berati bagi kami, sungguh, orang miskin yang punya jiwa pemimpin islami jauh lebih berarti. Jiwa yang dipenuhi dengan urusan duniawi, minta kenaikan gaji, urus bisnis sana-sini, pamer poster dan hanya wara-wiri, itukah karakter pemimpin di negeri ini? Mundurlah, karena islam sudah punya kriterianya..
*          *          *
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS Assajadah: 24)
1.      Memerintah dengan Al-quran dan hadits sebagai pedoman.
2.      Sabar.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
3.      Berlaku adil.

“Aqrauhum likitabillah” (HR.Bukhari )
4.      Yang paling mengetahui Alquran baik bacaannya, makhrajnya maupun isinya. Jika yang dibutuhkan dari dirinya hanya Imam dalam salat

      “Sayyidul qawmi Khadimuhum” (HR.Muslim)
5.      Pemimpin masyarakat itu ialah yang siap jadi pelayan masyarakat.

”Man ‘amma qawman fa al-yukhaffif” (HR.Abu Dawud)
6.      Siapa yang ingin memimpin masyarakat, hendaklah mampu memperingan beban rakyat.

Sudahkah pemimpin kita seperti itu? Sudahkah kriterianya seperti kata Rasul dan Kalam Allah yang bertujuan memelihara suatu negeri?
Mari bapak-bapak berdasi, dan ibu-ibu bersepatu hak tinggi, mari koreksi diri, sudahkah janji anda pada kami tertunaikan? Sebab amarah kami hanya sebatas demonstrasi, sementara tanggung jawab atas kesejahteraan kami ada di Pengadilan akhirat nanti. (ririn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut