Pages

Rabu, 11 April 2012

A R T I K E L

Tanda-Tanda bagi Kaum Berpikir

    Merasakan gempa ke-sekian kalinya adalah sungguh ujian bagi mereka. Setelah sebelumnya tsunami menyapu sebagian besar tanah, meruntuhkan rumah, dan mewafatkan keluarga, maka, apa lagi kini makna dibalik tanda-tanda kebesaran Allah itu?

     Tanggal 9 april kemarin Aceh melakukan Pemilukada, belum hilang sepekan, lalu Allah mengirim gempa. Tidak ada yang kebetulan dan tidak ada yang tidak bermakna ketika Kehendak Allah berbicara. Ada, atau mungkin banyak, yang ingin Allah sampaikan pada kita.

     Lihatlah bagaimana bumi ini sering disentuh petaka, lihatlah bagaimana daratannya diguncang kekeringan dan gempa, lihatlah bagaimana lautannya menjelma tsunami yang menenggelamkan berbahaya, lihatlah bagaimana gunung-gunungnya memuntahkan larva, lihatlah bermunculannya hewan-hewan yang sebelumnya tidak ada.


Tidakkah itu membuat kita berpikir?


   "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (QS Yunus: 24)

      "Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS Ar Ra'd: 4)


     Bukan, bukan semata kesalah mereka. Bukan semata kesalahan dia. Bukan semata kesalahan koruptor dan kroni-kroninya. Kita mungkin punya andil yang menyebabkan Allah murka.

ya, kita. Diri kita sendiri.

     Diri kita, siapa pun kita, punya bagian dari dosa. Kita punya kesalahan-kesalahan kecil, ya, kecil bagai butiran debu yang lalu menebal jika tidak terus dibersihkan. Kita punya kesalahan-kesalahan besar yang lebih banyak tidak disadari karena terlalu terlena dengan dunia. Kita punya berbagai macam dosa, kekhilafan, kemaksiatan, yang jika dihimpun satu sama lain, akan cukup menjadikan Allah menurunkan murka Nya di bumi ini.

      Ada yang mengaji tapi tidak mengkaji, ada yang shalat tapi masih bermaksiat, ada yang pintar tapi senang membodohi orang, ada yang berilmu tapi untuk disombongkan, ada yang cerdas tapi dekat dengan perdebatan, ada yang tidak tahu tapi tidak mau cari tahu, ada yang sok tahu, ada yang pura-pura tidak tahu. Ya, kita, mungkin kita punya bagian atas murka Nya.


   "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?." (QS Al Baqarah: 44)


     Maka, marilah kita memahami tanda-tanda kekuasaan Nya. Marilah menjadi makhluk yang berpikir dan bertindak sesuai perintah Nya. Tidak perlu menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri, lebih bijaksana jika semua memanjatkan doa dan memohon ampunan Nya. (ririn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut